Postingan

Belajar Resiliensi Melalui Persiapan Studi Ke Luar Negeri

Gambar
Malam tadi adalah malam yang panjang. Aku mengurus suatu dokumen imigrasi yang harus kubawa ke wawancara visa yang akan dilakukan dua hari lagi. Bayangkan saja, dokumen yang sedemikian penting itu tiba-tiba dibatalkan pihak kampus karena suatu hal. Padahal, proses mendapatkan dokumen ini sangat panjang dan melibatkan banyak pihak seperti pihak kampus serta pemerintah AS. Karena dokumen pengantar visa dari kampus adalah dokumen krusial untuk mendapatkan visa pelajar, aku pun segera menghubungi pihak kampus. Perbedaan waktu antara Indonesia dan di sana adalah 13 jam dan aku tidak dapat menghubungi mereka secara sinkronus, jadilah aku menunggu email selama semalam suntuk agar tidak melewatkan jam kerja efektif di Seattle, Washington sana.  Prosesnya begitu intens. Aku mengirimkan email dengan judul " urgent question regarding F1 visa ", namun tidak kunjung dibalas karena email dikirimkan ke frontliner Graduate School terlebih dahulu. Orangtuaku heboh. Mereka stres, aku apa lagi....

Modul Parenting dan Konsultasi Orang Tua

Gambar
Orang tua menjadi salah satu kesuksesan dalam proses belajar anak; sebagai pemberi pengetahuan dasar, pemberi fasilitas, pemberi motivasi. Orangtua yang telaten, mengerti cara mendidik, akan mampu membesarkan anak yang berkualitas pula. Terlebih lagi pada masa pandemi, peran orang tua menjadi yang paling besar. Sebab, pandemi membuat orang tua makin sering bertemu dengan anak. Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum dapat memaksimalkan perannya dalam mendampingi anak, khususnya mereka yang sibuk bekerja atau kurang teredukasi.  Saya mencoba membuat modul parenting ini untuk mencoba membantu masalah tersebut. Seluruhnya merupakan sintesis dari pengalaman mengamati lingkungan pribadi serta sumber-sumber dari luar. Modul ini telah saya gunakan dalam program pengabdian untuk edukasi ibu-ibu dengan anak kecil. Harapannya, modul ini dapat dijadikan referensi yang dapat berguna ketika melakukan sosialisasi parenting kecil-kecilan, khususnya di masa pandemi. Orangtua sebagai pendamp...

Membangun Pendidikan Humanis Melalui Mindset Humanis

Gambar
Sebagai pelajar dan pengajar, aku secara langsung merasakan dan melihat banyak fenomena-fenomena di dunia pendidikan Indonesia. Tentu banyak hal baik yang kudapatkan dari proses pendidikan, diantaranya mendapat kesempatan bersekolah di tempat yang memungkinkanku belajar banyak. Tetapi tentu, banyak juga kekurangannya. Aku melihat kesenjangan dalam pendidikan, dimana yang berduit mempunyai posisi lebih menguntungkan dalam pendidikan formal. Pendidikan yang dilakukan bertahun-tahun, namun gagal diamalkan dalam kehidupan nyata. Pendidikan yang terobsesi pada nilai nominal, pendidikan yang terbatas pada buku pelajaran. Pendidikan yang menyeragamkan kita bagai robot. Pendidikan yang tidak digunakan untuk mengembangkan individu, melainkan mempermudah kepentingan golongan tertentu saja. Intinya, aku melihat proses “pendidikan” yang tidak benar-benar memahami hakikat pendidikan. Hal ini mengusik dari perspektifku sebagai mahasiswa sekaligus guru. Aku pun mencoba menelisik permasalahan ini ...

Menjadi Guru MI/SD

Gambar
Dua jurusan mirip-mirip; Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Keduanya adalah jurusan untuk menjadi guru kelas pada jenjang pendidikan dasar. Tapi terkadang saya bingung dengan kurikulum yang ditawarkan dalam meniti profesi sebagai guru MI/SD. Saya merasa bahwa jurusan kami sebetulnya tidak begitu relevan keilmuannya untuk disuruh mengajar mata pelajaran seperti Matematika, IPA, atau Agama, yang saya rasa membutuhkan basic ilmu setara S1 ilmu tertentu. Contohnya, kita tentu kalah pengetahuan tentang IPA dan MTK nya dibandingkan mereka yang kuliah S1 jurusan Pendidikan MIPA. Kedalaman dan keluasan ilmu tentu berbeda.  Dan dalam pelaksanaannya ternyata memang betul, saya sendiri tak terlalu menguasai IPA dan Matematika. Lalu kemudian, apa yang dapat kuajarkan pada anak-anak kalo cuma setengah-setengah? Kenapa ada jurusan seperti PGMI dan PGSD?? Toh kami tidak "sekompeten" itu mengajar mata pelajaran. Pada rekrutmen lowongan kerja ...

Evaluasi Belajar?

Gambar
Seperti mahasiswa jurusan pendidikan lainnya, saya diwajibkan untuk mengambil mata kuliah Evaluasi Pembelajaran. Sebuah mata kuliah yang sangat penting, karena selama ada sekolah, pasti ada yang namanya tes evaluasi. Tentu saja sebagai guru kita akan senantiasa dihadapkan dengan pembuatan soal tes bukan? Mata kuliah ini mempelajari pembuatan soal beserta teknik-teknik penilaian. Banyak hal yang saya pelajari di mata kuliah ini, menyadarkan saya betapa dunia evaluasi belajar ternyata kompleks dan membutuhkan banyak perhatian.  Dan hari ini kami ditugaskan membuat soal tematik. Tidak ada yang aneh dari mata kuliah ini, materinya terstruktur, dosennya pintar. Hanya saja, ada satu yang mengganjal ketika saya melihat kompetensi dasar yang diberikan sebagai panduan saya membuat soal.. Kompetensi yang diberikan sulit, bahkan bagi saya yang sudah berkuliah. Lebih sedih lagi, soal ini sulit karena bersifat hafalan dan sak klek . Apakah anak anak kelas 5 dapat mengerjakan soal yang begitu ...

Ditengah Gempuran Administratif, Bisakah Kita Tetap Bertahan?

Gambar
Saya tak pernah merasa pembelajaran saya membosankan. Saat merancang RPP dan media belajar selalu saya upakan agar menarik. Tetapi ketika melihat layar gmeet yang menampakkan beberapa anak menguap di kelas.. Saya tercenung. Saya tahu saya harus mencari cara lain yang takkan membuat mereka mengantuk.  Saya tahu betul perasaan dan alasan mereka mengantuk, tidak fokus melihat layar. Tentu saya mengetahui ini karena saya juga sering mengalami ini ketika diajari dosen. Saya dapat menebak alasan mengapa mereka mengantuk, terlepas usaha saya merancang media belajar yang menarik. Saya kurang melibatkan mereka dalam pembelajaran.. Dan karenanya, saya harus kembali mencari cara-cara lain untuk melibatkan mereka secara lebih interaktif. Apakah evaluasi ini diberikan oleh guru yang menilai cara mengajar saya? Tidak.. terlihat beliau tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Begitu juga teman teman saya yang mengajar lama-lama. Daripada itu, mereka malah mempermasalahkan jika waktu ceramah di ...

Subsistem Masyarakat Terpelajar di Indonesia

Gambar
Masyarakat Terpelajar.. Apa sih maknanya? Kita sering menemui istilah tersebut di buku-buku sejarah. Ternyata, istilah "masyarakat terpelajar" tidak hanya diartikan sebagai kumpulan individu yang berpendidikan saja lho. Kumpulan individu ini dapat dipahami sebagai sebuah subsistem dari sistem yang besar, yaitu negara. Untuk memahami subsistem masyarakat terpelajar di Indonesia, yuk simak penjelasannya berikut ini! Latar Belakang Menurut KBBI, pendidikan adalah suatu proses, cara, dan perbuatan mendidik. Pendidikan mempengaruhi masyarakat, sebab aspek kehidupan masyarakat sering kali dipengaruhi oleh pendidikan yang didapatnya. Hubungan antara pendidikan dan masyarakat dapat dilihat dari proses dan pola interaksi yang saling timbal balik (Damsar, 2011).  Masyarakat terpelajar turut berkembang dan menjadi sistem sosial yang semakin besar. Karenanya, peran masyarakat terpelajar sangat penting dalam sistem sosial di Indonesia. Subsistem masyarakat ini turut bersinergi dengan ...